BELAJAR DARI AL-QUR’AN
( wahyu murtiningsih )

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang
Menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah ! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah
Yang mengajarkan dengan pena
Mengajarkan manusia hal – hal yang belum diketahuinya.
(Q.S. Al-Alaq : 1-5)
Makna umum, lima ayat Al-Qur’an yang turun pertama kali itu tentunya bukan hanya perintah kepada Rasulullah s.a.w. Untuk membaca ayat–ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya makna untuk membacanya ayat–ayat kauniyah yang terdapat di alam. Allah memberikan kemampuan manusia untuk membaca ayat–ayat kauniyah yang terdapat di alam.
Manusia diciptakan dari substansi serupa gumpalan darah dengan kemampuan analisis untuk mengurai rahasia–rahasia di balik fenomena alami. Kompilasi pengetahuan manusia kemudian didokumentasikan dan disebarkan dalam bentuk tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat–ayat kauniyah ini melahirkan sains dalam upaya menafsirkan alam sehingga muncullah ilmu astronomi, matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.
Dari segi esensinya, semua sains sudah Islami, sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum – hukum yang digali dan dirumuskan adalah hukum – hukum alam yang tunduk pada sunatullah. Pembuktian teori – teori yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains, kesalahan adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusia, tetapi kebohongan adalah bencana.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Maka, riset saintis Islam berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pokok pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkapkan satu mata rantai rahasia alam semestinya disyukurinya dengan ungkapan “Rabban maa khalaqta haadza baathilaa, Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia – sia” (QS. 3:19), bukan ungkapan bangga diri.
AL-QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN
Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Kitab Al-Qur’an kepada mereka serta Kami uraikan di dalamnya ilmu pengetahuan, menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Al-A’raf 52). Berpedoman pada ayat ini diharapkan ilmuwan muslim dapat melihat isarat ilmu pengetahuan yang ada dalam Al-Qur’an sebagai sumber kajiannya. Mungkin ada sesuatu yang fundamental untuk difahami, berharga dan monumental bagi manusia. Dalam Al-Qur’an sering diulang afalla taqibu (mengapa kamu tidak mempergunakan akalmu?) dan afalaa tatafakaruun (mengapa kamu tidak pikirkan?) Pada dasarnya manusia diingatkan agar senantiasa menggunakan akalnya untuk membaca dan memahami alam sebagai rahmat dari Allah SWT.
Ilmu pengetahuan itu sangat luas dan dengan izin Allah manusia mendapatkan petunjuk memahami sebagian kecil ilmu Allah. Sebagian hamba Allah pencipta alam semesta dan isinya sepantasnyalah mengajukan permohonan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu menjadi suatu kewajiban bagi manusia. Dengan menuntut ilmu berarti manusia memanfaatkan semua anugerah fasilitas akal dan alam semesta. Menuntut ilmu wajib atas muslimin laki – laki dan perempuan (HR Bukhari Muslim) Islam tidak menghalangi umatnya mengambil dan mempelajari ilmu pengetahuan dari siapa saja (dasarnya HR Tarmizi : Hikmat itu barang yang dicari orang mukmin, maka dimana saja didapatnya, dialah yang berhak dengannya). Pelajari ilmu pengetahuan walau sampai ke negeri Cina sekalipun.
Barang siapa meninggalkan rumahnya untuk mendapat ilmu pengetahuan, maka ia dalam jalan Allah sampai kembalinya. Barang siapa yang bepergian untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dimudahkan Allah jalannya ke surga. Kedudukan Ilmu pengetahuan (bagi mereka yang lebih mencintai hidup dunia dari akhirat akan menghalangi jalan Allah…..(QS. Ibrahim ayat 3)
Mengacu ayat – ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits tersebut mengajak kita menjelajah keluasan langit sambil menembus kedalaman Al-Qur’an. Namun hal penting yang tersirat QS. 3:191 tersebut mengingatkan manusia bahwa terdapat kemungkinan salah dan sesat dalam pengembaraan ilmiah. Ayat ini juga mengingatkan bahwa kebenaran ilmuAl-Qur’an dengan perangkat sains harus disadari pula adanya relativitas penafsiran manusia. Apalagi dengan mengingat bahwa laju kedaluwarsaan sains saat ini semakin cepat.
Dampak sumber daya Al-Qur’an yang difahami dan diamalkan umat Islam terdahulu telah mengubah masyarakat jahiliyah Arab dan memberi inspirasi dalam mengarahkan langkah aktivitas kehidupan manusia yang mempunyai nilai transenden dan sekaligus nilau universal bagi umat manusia.
Sebagai contoh dalam bidang astronomi pada zaman kemasan Islam pada abad 8 – 14 dapat dikenang melalui peninggalan karya ilmiah muslim yang hidup pada zaman itu. Peninggalan Observatorium non optik, katalog nama bintang oleh al Sufi (abad 10 atau 903 – 986, Ulugh Begh (abad 14, 139 – 1449) merupakan contoh sumbangan umat Islam pada pengetahuan. Banyak lagi ilmuwan muslim seperti Nasiruddin al Tusi (abad 13), Muhammad al-Khalili (abad 14), Abdurrahim al Mizi (abad 13). Di Baghdad, Abdul Abbas al Saffah (abad 8), Harun Ar Rasyid (abad 8-9) dan al-Makmun (abad 9) yang dikenal dengan pendiri taman bacaan Baitul Hikmah, ratusan buku Yunani, Persia, India, dsb diterjemahkan dan dipelajari. Proses transmisi pengetahuan dari pra Islam dan dikembangkan pada zaman Islam. Lahirlah ilmuwan muslim abad 9 – 10 yang dikenal dalam dunia Barat seperti al Khawarizmi (825), al Battani (900), Ibn al Haittham, (1000 M), al Biruni (1000 M) dan masih banyak lagi lainnya. Islam telah memberi andil untuk pengembangan astronomi, penentuan waktu ibadah dan mengajak manusia untuk mengagumi ciptaannya.
Kalau abad 8 -14 kontribusi pengetahuan di dominasi ilmuwan muslim namun pada kurun waktu abad 14 hingga penghujung 20 kontribusi ilmuwan muslim pada dunia ilmu pengetahuan kurang dari 1 persen. Mengapa? Kemungkinan masalah pertentangan interen umat Islam mengganggu stabilitas kehidupan dan berakibat melemahkan masyarakat Islam itu sendiri dan akhirnya tidak tahan terhadap serangan dari luar.
Pada millenium kedua terlihat pasang surut peran Islam dalam membentuk manusia modern yang berkontribusi pada ilmu pengetahuan. IPTEK Dunia Islam terpuruk setelah mengalami masa keemasan. Dampak kemunduran tersebut juga pada kualitas hidup dan kualitas beragama, peran Islam dalam amar ma’ruf nahi munkar kurang berdampak. Selain itu sejarah juga mencatat berbagai model negara yang mementingkan ilmu pengetahuan sebagian merupakan negeri adidaya seperti model Uni Soviet yang hanya berusia 70 tahun, selain itu terdapat Amerika dan Eropa yang hingga saat ini masih menunjukkan supremasi dalam ilmu pengetahuan. Ilmuwan dari negeri adidaya itu mempunyai kontribusi besar pada kemajuan ilmu pengetahuan. Kebangkitan ilmu pengetahuan di Barat didahului dengan pemberontakan terhadap agama (non Islam). Terbentuk manusia yang hanya mementingkan ilmu pengetahuan, dan mempertentangkan antara agama dan ilmu pengetahuan.
ILMUWAN MUSLIM HARUS BANGKIT
Ajaran Islam yang dikandung dalam kitab Al-Qur’an dan Al-Hadits telah memberi arah pada dzikir, pikir, dan amal manusia. Penopang agama Islam adalah intelektualitas manusia oleh karenanya tidak mempertentangkan sains dengan agama. Secara sederhana peran umat Islam pada millenium ke 3 adalah mengintegrasikan Islam dan IPTEK dalam proses pembentukan manusia yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Sehingga peran aktif umat Islam dalam amar ma’ruf nahi mungkar dapat dilaksanakan bagi kenyamanan hidup umat manusia.
Untuk mencapai tujuan itu perlu senantiasa diciptakan stabilitas yang dinamis dalam kehidupan bernegara. Melalui keadaan yang stabil itu proses–proses mempertajam fikiran, memperluas pandangan syair ilmu, menciptakan buah pikiran dan menggerakkan aktifitas memajukan IPTEK dapat dilaksanakan dengan baik.
Salah satu pilar penting kemajuan sesuatu bangsa adalah bergantung pada kemajuan penguasaan terhadap ilmu dan tehnologi. Ilmu dan teknologi membawa bangsa ke derajat kemuliaan, kebahagiaan dan kekuasaan. Allah meninggikan beberapa derajat kedudukan orang beriman dan berilmu pengetahuan (Q.S Al-Mujadalah 11). Mari kita bersemangat mencari ilmu untuk mewujudkan generasi yang beriman dan berpengetahuan tinggi.